Sabtu, 22 Juni 2013

Acara Rajaban Di Kadu Parasi -Labuan-Pandeglang

Video ini dapat di masukan ke blog adalah hasil kerja keras team kreative Tqn
Thanks to

Abah Zie Gobang

Mungki Solan

Serta para ikhwan TQN yang sudah banyak membantu terciptanya video ini Semoga segala sesuatu nya alloh membalas kebajikan kalian amin

Klik Pada Banner You Tube Di bawah ini Maka akan tampil Windows PopUp
selanjutnya selamat menyaksikan :)


Senin, 10 Juni 2013

DZIKIR MENEBUS NAFSU SELAMA KHOLWAT 7 HARI

 Dalam Kitab Al-Futudlot Ar-Robbaniyah Karangan Syekh Abdul Qodir Zaelani

1. Dzikir Lafadz لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (LAA ILAHA ILALLOH) sebanyak 70 ribu kali
Untuk menebus NAFSU AMAROH, dengan cara mengarahkannya ke arah latifah nafsi (posisinya dari arah dada menuju ke otak). Apabila selesai dzikir, maka laksanakan sholat sunat 2 rokaat kemudian ba’da sholat membaca do’a :

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَشْتَرِيْ مِنْكَ نَفْسِي الْأَمَارَةَ بِـهَذِهِ السَّبْعِيْنَ أَلْفًا

Artinya :
Ya Alloh sesungguhnya aku menebus dari Engkau, nafsu amaroh dengan dzikir 70 ribu ini.

2. Dzikir Lafadz اَللهُ (ALLOH) sebanyak 60 ribu kali
Untuk menebus NAFSU LAWAMAH, dengan cara mengarahkannya ke arah lathifah qolbi (posisinya kira-kira dua jari di bawah payudara sebelah kiri) Apabila selesai dzikir, maka laksanakan sholat sunat 2 rokaat kemudian ba’da sholat membaca do’a :

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَشْتَرِيْ مِنْكَ نَفْسِي اللَّوَامَةَ بِـهَذِهِ السِّتِّـيْنَ أَلْفًا

Artinya :
Ya Alloh sesungguhnya aku menebus dari Engkau, nafsu lawamah dengan dzikir 60 ribu ini.

3. Dzikir Lafadz هُوَ (HUWA) sebanyak 50 ribu kali
Untuk menebus NAFSU MULHAMAH, dengan cara mengarahkannya ke arah lathifah ruh (posisinya kira-kira dua jari di bawah payudara sebelah kanan) Apabila selesai dzikir, maka laksanakan sholat sunat 2 rokaat kemudian ba’da sholat membaca do’a :

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَشْتَرِيْ مِنْكَ نَفْسِي الْمُلْهَمَةَ بِـهَذِهِ الْخَمْسِـيْنَ أَلْفًا

Artinya :
Ya Alloh sesungguhnya aku menebus dari Engkau, nafsu mulhamah dengan dzikir 50 ribu ini.

4. Dzikir Lafadz حَقٌّ (HAQQUN) sebanyak 40 ribu kali
Untuk menebus NAFSU MUTHMAINAH, dengan cara mengarahkannya ke arah lathifah sirri (posisinya kira-kira dua jari di atas payudara sebelah kiri) Apabila selesai dzikir, maka laksanakan sholat sunat 2 rokaat kemudian ba’da sholat membaca do’a :

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَشْتَرِيْ مِنْكَ نَفْسِي الْمُطْمَئِنَةَ بِـهَذِهِ الْأَرْبَعِيْنَ أَلْفًا

Artinya :
Ya Alloh sesungguhnya aku menebus dari Engkau, nafsu muthmainah dengan dzikir 40 ribu ini.

5. Dzikir Lafadz حَيٌّ (HAYYUN) sebanyak 30 ribu kali
Untuk menebus NAFSU RODIYAH, dengan cara mengarahkannya ke arah lathifah qolab (posisinya merata di sekujur badan, yang pusatnya di kepala) Apabila selesai dzikir, maka laksanakan sholat sunat 2 rokaat kemudian ba’da sholat membaca do’a :

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَشْتَرِيْ مِنْكَ نَفْسِي الرَّاضِيَةَ بِـهَذِهِ الثَّلاَثِـيْنَ أَلْفًا

Artinya :
Ya Alloh sesungguhnya aku menebus dari Engkau, nafsu rodiyah dengan dzikir 30 ribu ini

6. Dzikir Lafadz قَيُّومْ (QOYYUM) sebanyak 20 ribu kali
Untuk menebus NAFSU MARDIYAH, dengan cara mengarahkannya ke arah lathifah khofi (posisinya kira-kira dua jari di atas payudara sebelah kanan) Apabila selesai dzikir, maka laksanakan sholat sunat 2 rokaat kemudian ba’da sholat membaca do’a :

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَشْتَرِيْ مِنْكَ نَفْسِي الْمَرْضِيَةَ بِـهَذِهِ الْعِشْرِيْنَ أَلْفًا

Artinya :
Ya Alloh sesungguhnya aku menebus dari Engkau, nafsu mardiyah dengan dzikir 20 ribu ini

7. Dzikir Lafadz قَهَّارْ (QOHHAR) sebanyak 40 ribu kali
Untuk menebus NAFSU KAMILAH / SHOMIMAH / SHOFIYAH, dengan cara mengarahkannya ke arah lathifah akhfa (posisinya ditengah-tengah dada) Apabila selesai dzikir, maka laksanakan sholat sunat 2 rokaat kemudian ba’da sholat membaca do’a :

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَشْتَرِيْ مِنْكَ نَفْسِي الْكَامِلَةَ أَوِ الصَّمِيْمَةَ أَوِ الصَّافِيَةَ بِـهَذِهِ الْعَشَرَةِ آلاَفٍ

Artinya :
Ya Alloh sesungguhnya aku menebus dari engkau, nafsu kamilah / shomimah / shofiyah dengan dzikir 10 ribu ini

By
Sumber Referensi :
Kitab Al-Fuyudlot Ar-Robbaniyah halaman 34-36
Pembimbing Suluk oleh Adik Sepeguruan Abah Haji Ahmad Sukanta yaitu Abah Asep Rohmatulloh (Murid Ama Kadzim Asnawi) , Pimp. Ponpes Riyadlul Hikam Cihateup Tasikmalaya

Sabtu, 08 Juni 2013

Mengetahui Anasir Di Dalam Tubuh

Dalam diri manusia terdapat dua 'alam yaitu 'alamul amri & 'alamul kholqi
'alamul amri meliputi pada lima latifah yaitu
Latifatul qolbi latifatul ruh latifatu sir latifatu khofi & latifatul akhfa. ke 5.latifah ini di masukan ke jasad manusia secara berbarengan dgn ruh
2. 'alamul kholqi meliputi pada dua latifah yaitu latifatu napsi & latifatu qolabiah & pada 'alamul kholqi ini trdpt 'anshir arba' yaitu
'anshir rih,'anashir nar,'anashir ma & anashir turob

MENGENAL 4 ANASIR
Diri kita terdiri dari sesuatu yg kelihatan (jasad) atau dalam istilah komputer disebut perangkat keras atau Hardware, dan sesuatu yg tidak kelihatan (Software/perangkat lunak).

A. JASAD (Hardware)
Jasad manusia memiliki (mengandung) 4 anasir atau 4 unsur yaitu :
1. Api (Nar)
2. Udara (Rih)
3. Air (Ma’)
4. Tanah (Turob)

1. Unsur Api
QS. Al Baqarah (2):24.
Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) - dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya),
peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.

Dari ayat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa jasad manusia mengandung unsur api, karena isi neraka adalah serba panas (serba api) yg bahan bakarnya dari batu dan orang kafir.

Selain itu setiap makanan yang kita makan jika prosesnya dimasak dulu tentu pasti menggunakan api.
Contohnya memasak sayuran, nasi dll tentu menggunakan api. Dengan demikian makanan yang kita makan tsb mengandung anasir api.

Anasir/unsur api tidak dapat berdiri sendiri, dia untuk bisa hidup perlu anasir lain yaitu anasir angin/udara (oksigen).

2. Unsur udara/angin
QS.Shaad (38):71-72
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.". Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya."

Sebagian ayat diatas terdapat kalimat ".............dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku.............."
Dari ayat diatas terdapat sebuah kata yg perlu digaris bawahi, yaitu kata "tiup" . Tiup biasanya ada hubungannya dengan angin. (Wa Allahu 'alam bissawab, hanya Allah SWT saja yang Maha Tahu tafsir ayat diatas).
Saya sebagai penulis mohon ampun kepada Allah SWT dan minta maaf kpd para pembaca jika penafsiran/pemahaman saya tentang "tiup" diatas ternyata salah.

Selain itu sesuatu yang hidup (manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan) tentu membutuhkan udara (mungkin Oksigen atau CO2).
Kita juga membutuhkan udara (oksigen) untuk bernafas. Ini berarti tubuh kita juga mengandung anasir angin/udara.

3. Unsur Air
QS.Al Furqaan (25):54.
Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.

Yang dimaksud air tersebut adalah air mani yang mana air mani itu salah satunya mengandung unsur air.

Selain itu badan kita juga mengandung 60% air, darah mengandung 90% air, makanan kita juga mengandung air.
Itu semua artinya bahwa jasad kita mengandung anasir air atau unsur air.

4. Unsur Tanah.
QS.Shaad (38):71-72
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.". Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya."

Yang dimaksud manusia pada ayat diatas adalah Nabi Adam AS. Selanjutnya unsur tanah tersebut di turunkan ke anak cucu Nabi Adam.

Selain itu makanan yang kita makan sebetulnya adalah berasal dari tanah (saripati tanah)
Dengan demikian berarti bahwa badan/jasad kita mengandung tanah.

Saya akan berikan suatu contoh tentang sepeda motor. Sepeda motor untuk bisa dinyalakan harus ada prasarat 4 anasir:

Anasir air = bensin
Anasir api = busi + kelistrikannya
Anasir udara/angin = karbirator sbg pensuplay udara
Anasir tanah = Body motor.

Pohon/tumbuh-tumbuhan untuk bisa hidup juga harus ada prasarat 4 anasir:
Anasir air
Anasir api = sinar/panas matahari
Anasir udara/angin = O2 dan CO2
Anasir tanah.

Mohon maaf jika ada kesalahan Al Hafidz Ahmad
Sumber : Majlis Dzikir At-Taubah Cilegon Banten.

Kamis, 16 Mei 2013

Godaan Para Muridin Thoriqoh


Ujian paling awal yang dijumpai para calon pengikut thoriqoh ialah perkara niat. Apakah motivasi masuk thoriqoh itu betul betul didasari oleh niat ikhlas semata mata menjalankan perintah Alloh dan Rosululloh, ataukah niat niat yang lain. Kenyataannya tidak sedikit orang masuk thoriqoh telah jatuh pada filter pertama lantaran salah soal nawaitu ini. Ada yang niat karena mengikuti ajakan teman, niat mencari kesembuhan, niat mencari kemakmuran ekonomi, atau sungkan kepada orang tuanya. Ada pula niat untuk kepantasan dimata masyarakat, ada yang niat supaya bisa ilmu pengobatan, ada yang niat untuk kesaktian dll. Bagi penempuh jalan Thoriqoh harusnya berhati hati pada kesalahan niat ini, karena akan berpengaruh pada keberhasilannya kelak.

Dan setelah masuk thoriqoh, kerapkali muncul godaan godaan yang mengiringi para penempuhnya. Ada godaan yang timbul dari luar diri kita seperti persoalan beratnya perekonomian, fitnahan dari orang lain, masalah pekerjaan, keluarga dll. Adapula godaan yang muncul dari dalam diri kita sendiri, diantara bisa dikelompokkan sebagai berikut:
Sebelum dan ketika Amaliyah

1. Kasal

Kasal artinya malas. Malas untuk menjalankan ibadah kepada Alloh SWT, padahal sebenarnya mereka dapat dan sanggup untuk melaksanakannya. Kasal ini seringkali menghantui dalam fikiran dan hati manusia yang berniat menjalani amaliyah thoriqoh. Kesempatan ada kemampuan juga ada tapi malas untuk melaksanakannya. Terkadang untuk menutup nutupi rasa malasnya supaya tidak dipersalahkan orang lain maka ia akan mencari cari alasan dan argumentasi agar tidak dipersalahkan karena kemalasannya tersebut.

2. Futur

Bimbang dan ragu ragu atau lemah sendirian, tidak memiliki tekad yang kuat. Terkadang muncul keragu raguan dalam hati, apakah amalan yang baik tersebut dilaksanakan ataukah tidak. Adakalanya bimbang karena terbayang bayang beratnya menjalani amalan tersebut, terkadang bimbang apakah ia akan bisa merasakan hasil atau manfaatnya atau hanya sia sia saja. Adakalanya bimbang apakah mampu menghadapi rintangan rintangannya, atau bisa jadi bimbang karena tarik menarik mana yang lebih penting antara urusan duniawi dan urusan ukhrowi.

3. Malal

Malal artinya bosan dan jenuh. Kadangkala hati manusia dihantui oleh fikiran dan perasaannya sendiri karena sudah menjalani berbagai macam amaliyah yang baik dalam thoriqoh. Sudah berpuluh puluh tahun lamanya tapi tetap saja tidak ada peningkatan ruhani ataupun kesejahteraan yang dapat dirasakannya, sehingga menganggap bahwa amaliyah baik yang sudah dijalankannya selama ini seperti tidak ada manfaatnya apa apa. Akhirnya bosan dan jemu kemudian beribadah secara aja kadarnya saja, bahkan muncul sifat meremehkan terhadap amal ibadah itu sendiri.

Timbulnya hal hal tersebut di atas adalah disebabkan kurang kuatnya para keimanan, kurang mantapnya keyakinan dan banyak terpengaruh oleh hawanya sendiri. Apabila hal hal tersebut dibiarkan saja bersarang dalam fikiran dan hati kita maka bisa mengakibatkan gagalnya mencapai tujuan dalam berthoriqoh.
Ketika dan sesudah amaliyah

Sedangkan hal hal yang juga sering menggoda dan menghalangi pada saat sedang dan sesudah melaksanakan ritual amaliyah thoriqoh, diantaraonya:

1. Riya'

Riya' ialah ingin dipuji puji manusia. Sengaja mempertontonkan atau menampak nampakkan ibadah atau amalnya kepada orang lain, atau ada suatu maksud tertentu "selain daripada Alloh".

Ingat manusia tidak bisa menjadi baik hanya karena pujian dan manusia tidak bisa menjadi buruk hanya karena celaan. Manusia yang ibadah dengan niat ingin dipuji manusia maka sebenarnyalah dia sidak menyembah kepada Alloh tetapi menyembah kepada sesuatu atau manusia yang diharapkan pujiannya tersebut.

2. Sum'ah

Sengaja menceritakan tentang amal ibadahnya kepada orang lain bahwa dia beramal dengan ikhlas karena Alloh, dengan maksud agar orang lain menganggapnya orang yang mulia dalam urusan agama. Dirinya beribadah tidak karena ingin dipuji orang atau karena sesuatu selain Alloh Ta'ala, dirinya itu tawadhu', padahal dibalik apa yang diungkapkannya itu justru berharap supaya orang lain menganggapnya sebagai manusia yang ikhlas dan selalu menjaga kebersihan hatinya.

3. Ujub

Membangga banggakan diri, rasa diri hebat yang timbul dari dalam hatinya karena merasa banyaknya amal ibadah, tidak dirasakan bahwa semua adalah semata mata berkat dan rohmat Alloh. Karena merasa telah melakukan banyak ibadah sehingga menganggap dirinya lebih taat kepada Alloh, lebih mulia dihadapan Alloh, lebih berilmu dan lebih shobar dibandingkan orang lain.

4. Hajbun

Hajbun artinya hijab/dinding/tabir. Dinding yang dimaksud adalah terkena dan kagum atas keindahan amalnya. Sehingga tertahan pandangan hatinya kepada kekaguman itu dan akhirnya berputar putar disitu saja. Beragam godaan dari dalam hati tersebut sebenarnya berpangkal dari penyakit syirik khofi (syirik tersembunyi).

Apabila godaan tersebut dibiarkan bersarang dalam hati para penempuh jalan thoriqoh maka hal itu bisa menjadi 'penyamun' yang senantiasa menjegal dan menggagalkan perjalanan manusia untuk mencapai tujuan thoriqoh.
Wa allohu A'lam

Syariat Thariqah Haqiqah Ma’rifah

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dengar istilah-istilah agama yang kadang-kadang pengertian masyarakat masih rancu, istilah tersebut antara lain :

Syariat  Thariqah Haqiqah Ma’rifah

1. Syariat :

Adalah hukum Islam yaitu Al qur’an dan sunnah Nabawiyah / Al Hadist yang merupakan sumber acuan utama dalam semua produk hukum dalam Islam, yang selanjutnya menjadi Madzhab-madzhab ilmu Fiqih, Aqidah dan berbagai disiplin ilmu dalam Islam yang dikembangkan oleh para ulama dengan memperhatikan atsar para shahabat ijma’ dan kiyas. Dalam hasanah ilmu keislaman terdapat 62 madzhab fiqh yang dinyatakanmu’tabar (Shahih dan bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya) oleh para ulama. Sedangkan dalam hasanah ilmu Tuhid (keimanan), juga dikenal dengan ilmu kalam. Ahirnya ummat Islam terpecah menjadi 73 golongan / firqah dalam konsep keyakinan. Perbedaan ini terdiri dari perbedaan tentang konsep konsep, baik menyangkut keyakinan tentang Allah SWT, para malaikat, kitab kitab Allah, para Nabi dan Rasul, Hari Qiamat dan Taqdir.

Namun dalam masalah keimanan berbeda dengan Fiqih. Dalam Fiqh masih ada toleransi atas perbedaan selama perbedaan tersebut tetap merujuk pada Al Qur’an dan Sunnah, dan sudah teruji kebenarannya serta diakui kemu’tabarannya oleh para ulama yang kompeten. Akan tetapi dalam konsep keimanan, dari 73 golongan yang ada, hanya satu golongan yang benar dan menjadi calon penghuni surga, yaitu golongan yang konsisten / istiqamah berada dibawah panji Tauhidnya Rasulullah SWA dan Khulafa Ar Rasyidiin Al Mahdiyyin yang selanjutnya dikenal dengan Ahlu As Sunnah wal Jamaah. Sedangkan firqah / golongan lainnya dinyatakan sesat dan kafir. Jika tidak bertaubat maka mereka terancam masuk dalam neraka. Na’udzubillah.

2. Thariqah :

Adalah jalan / cara / metode implementasi syariat. Yaitu cara / metode yang ditempuh oleh seseorang dalam menjalankan Syariat Islam, sebagai upaya pendekatannya kepada Allah Swt. Jadi orang yang berthariqah adalah orang yang melaksanakan hukum Syariat, lebih jelasnya Syariah itu hukum dan Thariqah itu prakteknya / pelaksanaan dari hukum itu sendiri.

Thariqah ada 2(dua) macam :

Thariqah ‘Aam : adalah melaksanakan hukum Islam sebagaimana masyarakat pada umumnya, yaitu melaksanakan semua perintah, menjauhi semua larangan agama Islam dan anjuran anjuran sunnah serta berbagai ketentuan hukum lainnya sebatas pengetahuan dan kemampuannya tanpa ada bimbingan khusus dari guru / mursyid / muqaddam.

Thariqah Khas : Yaitu melaksanakan hukum Syariat Islam melalui bimbingan lahir dan batin dari seorang guru / Syeikh / Mursyid / Muqaddam. Bimbingan lahir dengan menjelaskan secara intensif tentang hukum-hukum Islam dan cara pelaksanaan yang benar. Sedangkan bimbingan batin adalah tarbiyah rohani dari sang guru / Syeikh / Mursyid / Muqaddam dengan izin bai’at khusus yang sanadnya sambung sampai pada Baginda Nabi, Rasulullah Saw. Thariqah Khas ini lebih dikenal dengan nama Thariqah as Sufiyah / Thariqah al Auliya’.Thariqah Sufiyah yang mempunyai izin dan sanad langsung dan sampai pada Rasulullah itu berjumlah 360 Thariqah. Dalam riwayat lain mengatakan 313 thariqah. Sedang yang masuk ke Indonesia dan direkomendasikan oleh Nahdlatul Ulama’ berjumlah 44 Thariqah, dikenal dengan Thariqah Al Mu’tabaroh An Nahdliyah dengan wadah organisasi yang bernama Jam’iyah Ahlu Al Thariqah Al Mu’tabarah Al Nahdliyah.

Dalam kitab Mizan Al Qubra yang dikarang oleh Imam Asy Sya’rany ada sebuah hadits yang menyatakan :

ان شريعتي جا ئت على ثلاثما ئة وستين طريقة ما سلك احد طريقة منها الا نجا .(ميزان الكبرى للامام الشعرني : 1 / 30)

“Sesungguhnya syariatku datang dengan membawa 360 thariqah (metoda pendekatan pada Allah), siapapun yang menempuh salah satunya pasti selamat”. (Mizan Al Qubra: 1 / 30 )

Dalam riwayat hadits yang lain dinyakan bahwa :

ان شريعتي جائت على ثلاثمائة وثلاث عشرة طريقة لا تلقى العبد بها ربنا الا دخل الجنة ( رواه الطبرني )

“Sesungguhnya syariatku datang membawa 313 thariqah (metode pendekatan pada Allah), tiap hamba yang menemui (mendekatkan diri pada) Tuhan dengan salah satunya pasti masuk surga”. (HR. Thabrani)

Terlepas dari perbedaan redaksi dan jumlah thariqah pada kedua riwayat hadits diatas, mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus percaya akan adanya thariqah sebagaimana direkomendasi oleh hadits tersebut. Kalau tidak percaya berarti tidak percaya dengan salah satu hadits Nabi SAW yang Al Amiin (terpercaya dan tidak pernah bohong). Lalu bagaimana hukumnya tidak percaya pada Hadits Nabi yang shahiih?

Dari semua thariqah sufiyah yang ada dalam Islam, pada perinsip pengamalannya terbagi menjadi dua macam. Yaitu thariqah mujahadah dan Thariqah Mahabbah. Thariqah mujahadah adalah thariqah / mitode pendekatan kepada Allah SWT dengan mengandalkan kesungguhan dalam beribadah, sehingga melalui kesungguhan beribadah tersebut diharapkan secara bertahap seorang hamba akan mampu menapaki jenjang demi jenjang martabah (maqamat) untuk mencapai derajat kedekatan disisi Allah SWT dengan sedekat dekatnya. Sebagian besar thariqah yang ada adalah thariqah mujahadah.

Sedangkan thariqah mahabbah adalah thariqah yang mengandalkan rasa syukur dan cinta, bukan banyaknya amalan yang menjadi kewajiban utama. Dalam perjalanannya menuju hadirat Allah SWT seorang hamba memperbanyak ibadah atas dasar cinta dan syukur akan limpahan rahmat dan nikmat Allah SWT, tidak ada target maqamat dalam mengamalkan kewajiban dan berbagai amalan sunnah dalam hal ini. Tapi dengan melaksanakan ibadah secara ikhlash tanpa memikirkan pahala, baik pahala dunia maupun pahala ahirat , kerinduan si hamba yang penuh cinta pada Al Khaliq akan terobati. Yang terpenting dalam thariqah mahabbah bukan kedudukan / jabatan disisi Allah. tapi menjadi kekasih yang cinta dan dicintai oleh Allah SWT. Habibullah adalah kedudukan Nabi kita Muhammad SAW. (Adam shafiyullah, Ibrahim Khalilullah, Musa Kalimullah, Isa Ruhullah sedangkan Nabi Muhammad SAW Habibullah). Satu satunya thariqah yang menggunakan mitode mahabbah adalah Thariqah At Tijany.

Nama-nama thariqah yang masuk ke Indonesia dan telah diteliti oleh para Ulama NU yang tergabung dalam Jam’iyyah Ahluth Thariqah Al Mu’tabarah Al Nahdliyah dan dinyatakan Mu’ tabar (benar – sanadnya sambung sampai pada Baginda Rasulullah SAW), antara lain :

1. Umariyah                                       23. Usysyaqiyyah

2. Naqsyabandiyah                           24. Bakriyah

3. Qadiriyah                                       25. Idrusiyah

4. Syadziliyah                                     26. Utsmaniyah

5. Rifaiyah                                          27. ‘Alawiyah

6. Ahmadiyah                                     28. Abbasiyah

7. Dasuqiyah                                      29. Zainiyah

8. Akbariyah                                      30. Isawiyah

9. Maulawiyah                                   31. Buhuriyyah

10. Kubrawiyyah                               32. Haddadiyah

11. Sahrowardiyah                           33. Ghaibiyyah

12. Khalwatiyah                                 34. Khodiriyah

13. Jalwatiyah                                    35. Syathariyah

14. Bakdasiyah                                  36. Bayumiyyah

15. Ghazaliyah                                   37. Malamiyyah

16. Rumiyah                                       38. Uwaisiyyah

17. Sa’diyah                                       39. Idrisiyah

18. Jusfiyyah                                      40. Akabirul Auliya’

19. Sa’baniyyah                                 41. Subbuliyyah

20. Kalsaniyyah                                 42. Matbuliyyah

21. Hamzaniyyah                               43. TIJANIYAH

22. Bairumiyah                                  44. Sammaniyah.

3. Haqiqah

Yaitu sampainya seseorang yang mendekatkan diri kepada Allah Swt. di depan pintu gerbang kota tujuan, yaitu tersingkapnya hijab-hijab pada pandangan hati seorang salik (hamba yang mengadakan pengembaraan batin) sehigga dia mengerti dan menyadari sepenuhnya Hakekat dirinya selaku seorang hamba didepan TuhanNya selaku Al Kholiq Swt. bertolak dari kesadaran inilah, ibadah seorang hamba pada lefel ini menjadi berbeda dengan ibadah orang kebanyakan. Kebanyakan manusia beribadah bukan karena Allah SWT, tapi justru karena adanya target target hajat duniawi yang ingin mereka dapatkan, ada juga yang lebih baik sedikit niatnya, yaitu mereka yang mempunyai target hajat hajat ukhrawi (pahala akhirat) dengan kesenangan surgawi yang kekal.

Sedangkan golongan Muhaqqiqqiin tidak seperti itu, mereka beribadah dengan niat semata mata karena Allah SWT, sebagai hamba yang baik mereka senantiasa menservis majikan / tuannya dengan sepenuh hati dan kemampuan, tanpa ada harapan akan gaji / pahala. Yang terpenting baginya adalah ampunan dan keridhaan Tuhannya semata. Jadi tujuan mereka adalah Allah SWT bukan benda benda dunia termasuk surga sebagaimana tujuan ibadah orang kebanyakan tersebut diatas.

4. Ma’rifah

Adalah tujuan akhir seorang hamba yang mendekatkan diri kepada Allah Swt. (salik) Yaitu masuknya seorang salik kedalam istana suci kerajaan Allah Swt. ( wusul ilallah Swt). sehingga dia benar benar mengetahui dengan pengetahuan langsung dari Allah SWT. baik tentang Tuhannya dengan segala keagungan Asma’Nya, Sifat sifat, Af’al serta DzatNya. Juga segala rahasia penciptaan mahluk diseantero jagad raya ini. Para ‘Arifiin ini tujuan dan cita cita ibadahnya jauh lebih tinggi lagi, Mereka bukan hanya ingin Allah SWT dengan Ampunan dan keridhaanNYa, tapi lebih jauh mereka menginginkan kedudukan yang terdekat dengan Al Khaliq, yaitu sebagai hamba hamba yang cinta dan dicintai oleh Allah SWT.

(syariah dan Thariqah) kita bisa mempelajari teori dan praktek secara langsung, baik melalui membaca kitab-kitab / buku-buku maupun melalui pelajaran-pelajaran (ta’lim) dan pendidikan (Tarbiyah) bagi ilmu Thariqah. Sedangkan Haqiqah dan ma’rifah pada prinsipnya tidak bisa dipelajarisebagai mana Syariah dan Thariqah karena sudah menyangkut Dzauqiyah.

Haqiqah dan ma’rifah lebih tepatnya merupakan buah / hasil dari perjuangan panjang seorang hamba yang dengan konsisten (istiqamah) mempelajari dan menggali kandungan syariah dan mengamalkanya dengan ikhlash semata mata karena ingin mendapatkan ridha dan ampunan serta cinta Allah SWT.

Perumpamaan yang agak dekat dengan masalah ini adalah : ibarat satu jenis makanan atau minuman ( misalnya nasi rawon ). Resep masakan nasi rawon yang menjelaskan bahan bahan dan cara membuat nasi rawon itu sama dengan Syariah. Bimbingan praktek memasak nasi rawon itu sama dengan Thariqah. Resep dan praktek masak nasi rawon ini bisa melalui buku dan mempraktekkan sendiri (ini thariqah ‘am ) sedangkan resep dan praktek serta bimbingan masak nasi rawon dengan cara kursus pada juru masak yang ahli (itu namanya Thariqah khusus). Makan nasi rawon dan menjelaskan rasa / enaknya ini sudah haqiqah dan tidak ada buku panduannya, demikian juga makan nasi rawon dan mengetahuisecara detail rasa, aroma, kelebihan dan kekurangannya itu namanya ma’rifah.

 Wa allohu A'lam ..

Sumber :

    Keputusan Kongres & Mubes Jam’iyah Ahli Thariqah Mu’tabaroh An Nahdliyah, pada hasil Mu’tamar kedua di Pekalongan tanggal 8 Jumadil Ula 1379 H / 9 November 1959. halaman 25.
    http://www.piss-ktb.com/2011/12/920-makalah-perbedaan-syariat-thoriqoh.html